Monday, August 26, 2013

Menggosok Kemilau Dua Berlian dalam Satu Kejadian


Sampai hari ini luapan lahar dingin yang mengarah ke Magelang dan Yogyakarta belum juga usai. Di musim hujan seperti sekarang kekhawatiran datangnya lahar dingin semakin besar. Semenjak letusan Gunung Merapi pada 2010 lalu, kekhawatiran tersebut terus terpelihara. Bagi kami yang tinggal di daerah Magelang, letusan Merapi yang diikuti hujan abu dan lahar dingin telah mengajarkan kami pada dua hal penting. Ada berlian terpendam yang selalu ada dalam diri setiap manusia dan akan muncul ketika manusia menggosoknya dengan sungguh-sungguh. Kilaunya akan menerangi setiap langkah hidup manusia.

Pertama, kami belajar dan mempraktekkan indahnya nilai kesabaran. Ketika hujan abu menutupi langit, menumbangkan pepohonan karena panasnya, memutuskan arus listrik, membunuh ternak dan membuat hati kami terguncang, disaat bersamaan kami sesungguhnya sedang menggosok kesabaran sebagai berlian yang terpendam dalam hati kami. Kesabaran menyelesaikan begitu banyaknya persoalan hidup yang dihadapi manusia. Sungguh tanpa kesabaran maka musibah yang kami alami akan menghancurkan sisi yang lebih dahsyat dari diri kami sebagai manusia. Kehilangan harta benda dan saudara akan diikuti dengan hilangnya kerapuhan dan kekuatan hati kami sebagai manusia. Maka putus asa yang mendera akan menghancurkan segenap asa yang masih tersisa. Namun kesabaran membentengi kami dari sifat putus asa tersebut.

Kedua, kami menggosok indahnya nilai syukur yang ada dalam diri kami. Meski harta kami hilang, setidaknya kami masih bisa bersyukur diberi kehidupan dan kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Letusan Merapi tidak hanya menimbulkan derita tetapi menghasilkan potensi kehidupan baik berupa pasir, batu dan kekayaan alam lainnya. Itu semua harus kami syukuri karena sesungguhnya banyak hikmah yang bisa dipetik dari setiap kejadian


Thursday, August 22, 2013

“Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”

(Mengenang Persahabatan dan Secangkir Kopi Tumpah)


Secangkir kopi itu masih mengepulkan asap, aroma khasnya semerbak menusuk hidung, menggugah selera dan menggugah imaji. Sebelum memulai aktifitas di pagi hari, secangkir kopi menjadi teman yang tepat untuk membangkitkan  semangat. 

Setiap kali menatap secangkir kopi aku selalu terbayang teman kos di masa kuliah, namanya Aris. Teringat kembali sepenggal cerita beberapa tahun lalu ketika kami masih tinggal di kos yang sama. Pagi itu sekitar jam 3.30 pagi kami semua bangun untuk sahur puasa Ramadhan. Seperti biasa Aris selalu membuat secangkir kopi instan Good Day kesukaannya untuk menemani makan sahur. Pilihannya memang tepat yaitu “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”.

Ketika itu Aris masih anak baru di kos kami, dia baru saja diterima di Jurusan Teknik Kimia yang diidamkannya dari SMA. Pagi itu Aris mengambil gelas kemudian menuangkan kopi instan dan air panas ke dalamnya. Setelah mengaduk kopinya, Aris kemudian menaruhnya di meja ruang tengah yang biasa digunakan untuk kumpul dan makan bersama. Tanpa sengaja ketika dia mau pergi ke warung membeli makan sahur, tangannya menyenggol gelas kopi tadi sehingga isinya tumpah tanpa sisa. Secangkir kopi Good Day yang sudah dibuatnya harus melayang sebelum sempat dicicipi. 

Terlihat wajah Aris nampak muram, campur aduk antara malu, sampai menyesal kehilangan segelas “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”. 

Kemudian kuanjurkan ke dia untuk membuat lagi.
“Nyong gawe maning bae” (Ris buat lagi aja, kami memang biasa menggunakan bahasa ngapak ketika ngobrol, karena sama-sama berasal dari Cilacap)
“kuwe kopi terakhirku mas, ora duwe maning” (itu kopi terakhirku mas, sudah gak punya lagi. Ternyata kopi instan tadi adalah stok terakhir yang dimiliki Aris)
“tuku bae nang warung kan akeh” (beli aja di warung,masih banyak)

Ternyata Aris tidak mau beli lagi karena di Warung Bu Mirah langganan kami tidak ada kopi instan kesukaannya. Jadilah pagi itu Aris gagal menikmati kopi instan kesukaannya. Pagi itu aku jadi tahu kesukaan Aris pada “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”.

Kesukaan Aris pada kopi favoritnya memang beralasan. Yah bagi anak muda, Good Day memang memenuhi semua syarat untuk menjadi kopi favorit. Ada beberapa alasan sehingga Good Day layak disebut sebagai Kopi Instan favorit, diantaranya:

a. Memiliki banyak rasa

Varian rasa Good Day menunjukkan kesungguhannya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen. Lihatlah gambar varian Good Day yang siap memanjakan selera penikmat kopi.
Ada varian rasa mocacino, vanila latte, coolin, coffemix, carrebian nut, tiramisu bliss,funtastic mocacino, freeze mocafrio dan tentu saja cappuccino. Bagi para penikmat kopi, banyaknya varian rasa yang dimiliki Good Day ini tentu bikin ngiler dan gak nahan untuk mencobanya. “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”.

b. Bisa dinikmati panas maupun dingin

Gak Cuma panas, kalau pas siang saya juga sering minum es kopi good day, rasanya tetap sama-sama nikmat. Semua varian bisa dinikmati ketika dingin,yang paling mantep tentu freeze mocafrio dan coolin.  

c. Capuccinonya Paling mantap

Cappuccino menjadi minuman favorit banyak orang. Setelah sempat gonta-ganti mencoba berbagai merk, akhirnya saya memilih Cappucino Good Daya yang paling pas dengan selera. Beberapa merk lain ada yang terlalu dominan rasa susu, ada juga yang agak pahit, sampai hambar gak jelas rasa cappuccinonya.

d. Desain kemasan yang menarik 

Di era yang serba cepat ini manusia, lebih suka yang simpel dan praktis. “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”, hadir dalam kemasan instan yang menarik. Tersedia dalam kemasan sachet dan botol. Ini contoh kemasan botolnya


Kemasan botol memudahkan kita untuk menikmatinya setiap saat. Tinggal buka tutupnya, terus nikmati enaknya. 


Lebih dari secangkir kopi

Secangkir kopi bagi sebagian orang lebih dari sekedar minuman. Ada semangat, keceriaan, harapan, cita-cita yang mengiringi setiap teguknya. Bagi saya secangkir kopi itu mengingatkan terus jalinan persahabatan yang telah terjalin. 
Mengawali pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, menonton sepakbola, ngobrol dengan tetangga selalu pas ditemani secangkir kopi. Sampai sekarang, kalau bertemu Aris kami masih sering tertawa kalau mengenang peristiwa itu. Secangkir kopi yang menemani persahabatan dan keakraban kami.

“Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”, menemani jalinan persahabatan di dunia yang katanya sudah serba materialistik ini. Ketika semua urusan harus disertai dengan uang ternyata secangkir kopi bisa menemani persabatan kami.
Senin, 19 Agustus 2013 lalu saya sempat silaturahmi ke rumah Mbah Kiyah, pemilik kos jaman kuliah dulu. Rumahnya yang sederhana sekarang sudah berubah menjadi bangunan permanen dua lantai. Bagian bawah disewakan untuk usaha salon sedangkan di lantai atas digunakan untuk cafĂ©. 
Menatap bangunan megah itu, hilanglah sudah harapanku untuk mengenang kembali Wisma 276 tempat kos dahulu yang telah melahirkan banyak kenangan, dan persahabatan. Hilanglah tempat mulia yang telah membantu mewujudkan beragam cita-cita dari penghuninya. Kenangan “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”, milik Aris yang tumpah disaat sahur.

Sambil menengok kembali tempat kos saya dulu, saya juga menyusuri jalan Timoho Raya, kondisinya sudah sangat berbeda dengan ketika saya masih kuliah. Sepanjang jalan berdiri tempat usaha dan rumah kos dalam skala besar.

Ada yang menarik, ketika sepanjang jalan itu ternyata banyak penjual es juice yang menambah menunya dengan varian kopi instan. Kulihat Kopi Instan dan Capuccino Godd Day terpajang disana. Menurut beberapa penjual es juice disana, kopi instan ini lebih diminati pembeli daripada yang lain.

Kehadiran kopi instan dan cappuccino good day, bukan hanya tergaul dan terenak tetapi juga menginspirasi kelahiran banyak usaha. 
“Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” menghidupkan usaha es juice dan milk shake, warung burjo, warung kopi dan menghidupi banyak orang. Ini menunjukkan kalau kopi instan dan capucino Good Daya memang banyak digemari. Sepanjang Jalan Timoho Raya saya lihat banyak anak muda yang membuka usaha ini, anak-anak kuliahan yang pandai membaca peluang dari kelahiran sebuah produk. Sebuah multiplayer effect dari kehadiran produk yang akhirnya melahirkan beragam inspirasi bagi bisnis lainnya.


          
catatan:

Jum'at 23 Agustus 2013, 10.30 WIB, ketika menulis di blog ini, saya dapat telfon dari Mas Amir, teman kosku dulu yang mengabarkan kalau Mbah Kiyah baru saja meninggal, teriring doa semoga amal dan segala kebaikannya diterima di sisi Alloh SWT, Amin)


Tuesday, August 20, 2013

Mahasiswa Berprestasi?

Menyandang predikat mahasiswa berprestasi atau mahasiswa teladan merupakan kebanggaan tersendiri bagi setiap mahasiswa.  Dengan predikat mahasiswa berprestasi  berarti ia adalah mahasiswa dengan berbagai kelebihan diatas rata-rata mahasiswa pada umumnya. Selain itu juga menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi orangtua, lingkungan sekitar, dan tentu saja almamater tempatnya kuliah. Seseorang yang menjadi teladan akan mendapat keistimewaan dan kemudahan dalam berbagai hal. Misalnya adalah kemudahan dalam memperoleh beasiswa, memiliki kedekatan dengan dosen dan berbagai kemudahan perkara akademik lainnya.. Pendek kata predikat mahasiswa berprestasi yang disandang seseorang akan banyak memberi manfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Selama ini mahasiswa berprestasi selalu didentikkan dengan kemampuannya memperoleh indeks prestasi yang tinggi (bahkan cumlaude), lulus dalam waktu yang pendek, menjadi asisten dosen, menyabet berbagai tropi, gelar, atau penghargaan dari berbagai kejuaraan, pintar berbicara dalam berbagai bahasa asing dan berbagai kriteria prestasi akademik lainnya. Pandangan seperti ini muncul karena memang sistem evaluasi di perguruan tinggi yang masih menempatkan kriteria-kriteria  tersebut untuk mengukur prestasi seorang mahasiswa. Tentu saja tidak mengherankan jika orang tua wali, dunia kerja dan  masyarakat pada umumnya memandang mahasiswa berprestasi dengan kriteria itu pula. Dalam pengajuan beasiswa dan melamar kerja misalnya persyaratan prestasi akademis seperti indeks prestasi yang tinggi, tropi, piagam dan gelar kejuaraan  selalu menjadi kriteria yang tidak pernah terlewatkan. Sudah barang tentu mereka yang tidak memenuhinya berarti tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi selanjutnya.

Landasan berfikir bahwa kriteria prestasi seseorang mesti diukur dengan kriteria akademis tidak bisa lepas dari pandangan pragmatis matematis yang memandang bahwa prestasi adalah sesuatu yang harus bisa diukur secara jelas dengan menggunakan angka. Dengan angka dapat diketahui si A lebih berprestasi dari si B dengan margin sekian dan sebagainya. Tafsiran angka ini mereduksi sisi lain dari seorang mahasiswa diluar kemampuan akademisnya. Sehingga meskipun seorang mahasiswa memiliki sifat yang egois, tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, tidak memiliki sifat empati terhadap sesamanya, tetaplah ia seorang mahasiswa yang berprestasi dimata sebagian besar orang asalkan kemampuan akademisnya bagus. Hal ini tentu saja mengabaikan sisi manusiawai diluar kemampuan akademis seseorang. Seorang manusia bukanlah mesin yang hanya bisa diukur produktifitas dan prestasinya berdasar output yang bisa diukur dengan angka, tetapi dia adalah pribadi unik yang mesti dipandang secara utuh sisi-sisi manuiawinya. Menilai prestasi seseorang hanya dengan mengukur kemampuan akademisnya pada dasarnya baru mengukur manusia dari kulit luarnya saja. Ukuran akademis tidak akan mampu menjangkau sisi-sisi terdalam dari manusia seperti kemampuannya untuk memberikan manfaat pada sesamanya.
Kriteria  selain akademis
Model pendidikan pragmatis hanya menghasilkan sosok manusia seperti halnya mesin produksi yang tujuannya adalah menghasilkan materi semata, sehingga akhirnya memunculkan orang-orang yang egois, apatis, dan terkadang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Lihatlah betapa banyak orang pintar dan cerdas di negeri ini, betapa banyak orang dengan berbagai gelar dan prestasi akademik yang dimiliki bangsa ini tetapi hanya sedikit dari mereka yang memiliki kemauan dan kepedulian untuk memberi manfaat kepada sesamanya. Untuk apa orang pintar dan cerdas kalau hanya bermanfaat untuk kepentingannya sendiri, sementara dilain pihak banyak saudaranya yang membutuhkan uluran tangannya.
Jika hanya kriteria akademis yang kita gunakan untuk mengukur prestasi sosok seorang teladan jelas itu tidak cukup. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa kriteria lain untuk menilai sosok teladan secara utuh. Tidak dipungkiri bahwa kriteria akademis ini penting untuk menilai prestasi seseorang tetapi harus didampingi dengan kriteria lain seperti demokratis, humanis dan tentu saja moralitas. Sosok seorang yang demokratis berarti pribadi yang penuh toleransi, mau menerima perbedaan di sekitarnya dan peka terhadap aspirasi orang lain. Hal ini sangat penting dimiliki oleh seorang mahasiswa yang nantinya akan terjun untuk mengamalkan ilmunya baik di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat disekitarnya. Sosok yang demokratis akan lebih supel dan fleksibel ketika bergaul dengan sesamanya. Ditengah orang-orang yang memiliki kemampuan akademis berbeda dia akan mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang aspiratif dan toleran. Dia tidak akan menempatkan dirinya seolah-olah orang paling pintar, pendapatnya paling benar, sebagai sumber rujukan, tidak mau menerima pendapat pihak lain, meremehkan orang lain dan sikap-sikap egois lainnya. Tidak salah kiranya jika kriteria demokratis ini semestinya melekat  pada sosok seorang mahasiswa teladan. Banyak kita jumpai dalam masyarakat kita orang yang secara akademis bagus tetapi  tidak demokratis sehingga ketika menjadi pejabat atau wakil rakyat misalnya ia tidak memiliki kepekaan terhadap aspirasi rakyat, otoriter, dan arogan ketika memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya. Mereka menjadi orang-orang yang tertutup mata batinnya oleh berbagai kelebihan akademis yang ada pada dirinya.
Kriteria berikutnya yang perlu dimasukkan untuk menilai seorang mahasiswa teladan adalah kriteria humanis. Sosok yang humanis memiliki  kepekaan terhadap sisi-sisi kemanusiaan orang lain, mampu berempati terhadap sesamanya, dan senantiasa mengedepankan jalan damai dan menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kekerasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan kita. Para mahasiswa telah demikian akrab dengan praktek kekerasan dalam berbagai bentuk. Sosok mahasiswa teladan yang menjadi suri tauladan dan panutan dari mahasiswa lainnya selayaknya adalah orang yang humanis. Ini menjadi penting mengingat banyak orang yang mengabaikan hal ini. Dijaman seperti sekarang ini sudah semakin sulit untuk mencari orang  yang memliki empati terhadap sesamanya. Ketika kebanyakan orang yang kita temui lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan semakin acuh dengan keadaan orang lain di sekitarnya kita memerlukan sosok humanis yang bisa menjadi panutan terutama bagi generasi muda.
Moralitas sudah menjadi barang yang mahal, langka, dan diabaikan di negeri ini. Orang sudah tidak malu lagi untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral sekalipun. Sebagai contoh dari berita di berbagai media massa menginformasikan pada kita bagaimana tindakan korupsi sudah menggurita di negeri ini. Korupsi sebagai sebuah tindakan yang tidak bermoral sudah tidak membuat malu pelakunya. Selain itu integritas moral juga menjadi masalah serius bagi para pemimpin di negeri ini seperti pejabat negara dan para wakil rakyat. Mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan tetapi tidak memiliki integritas moral yang tinggi cenderung akan menyelewengkan jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi. Tidak heran jika Lord Acton mengungkapkan bahwa kekuasaan tanpa integritas moral yang tinggi akan cenderung korup.
Mahasiswa sebagai agen perubahan dan calon pemimpin bangsa ini dimasa depan haruslah sosok yang memiliki integritas moral yang tinggi. Apa jadinya bangsa ini dimasa yang akan datang jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak memiliki integritas moral. Berbagai krisis yang dihadapi bangsa ini akan semakin ruwet dan sulit diselesaikan jika pemimpinnya adalah orang yang tidak bermoral. Apabila seorang pemimpin tidak bermoral maka yang susah tentu saja rakyat itu sendiri. Uhntuk itu moralitas menjadi sesuatu yang penting dalam menilai atau menetapkan seseorang sebagai teladan bagi lainnya.

Mahasiswa teladan bukanlah sekedar sosok yang hanya memiliki kemampuan dan keunggulan dari sisi akademis saja tetapi perlu juga memiliki  keunggulan dari sisi lainnya. Karenanya menilai seorang mahasiswa teladan hanya dari sisi akademisnya saja jelas sangat dangkal dan tidak cukup. Sosok mahasiswa teladan diharapkan tidak hanya seorang yang mampu secara akademis tetapi juga sosok yang demokratis, humanis dan memiliki integritas moral yang tinggi. Harapannya adalah sebagai sosok teladan ia akan mampu menjadi panutan bagi orang laing dan tentu saja mampu memberi manfaat bagi sesamanya. Ibarat kata, ilmu yang tidak memberi manfaat bagaikan pohon yang tidak berbuah. Menggunakan penilaian akademis saja sebagai kriteria dalam menilai prestasi peserta didik jelas bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri yang ingin menjadikan manusia sebagai sosok yang seutuhnya.

Wednesday, August 14, 2013

Suami Makan Gaji Istri

SUAMI makan gaji istri bukanlah fenomena baru pada masa sekarang ini. Dinamika kehidupan keluarga penuh dengan pasang surut cerita kehidupan. Dalam suatu masa, sebuah keluarga bisa hidup dalam kecukupan ekonomi, sementara pada masa yang lain mengalami kekurangan.

Perubahan kondisi ekonomi keluarga bisa disebabkan oleh beragam faktor. Sebagai contoh terjadinya bencana alam, kebakaran, pemutusan hubungan kerja, dan krisis ekonomi. Bencana tsunami yang melanda pada tahun 2004 lalu menghancurkan kehidupan ekonomi masyarakat Aceh. Di masa krisis ekonomi tahun 1998 banyak karyawan yang diberhentikan dari tempatnya bekerja.
Jumlah pengangguran meningkat sehingga berimbas pada peningkatan jumlah penduduk miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen). Angka ini berkurang sebanyak 890.000 jiwa dibanding periode yang sama tahun lalu (Suaramerdeka. com/2/7/2012). Meskipun terjadi penurunan, angka tersebut masih menunjukkan tingginya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Banyak pekerja laki-laki yang seharusnya bertindak sebagai penopang ekonomi keluarga terpaksa harus menganggur. Kondisi seperti ini lazim terjadi pada setiap keluarga sehingga memunculkan fenomena maraknya suami yang makan dari penghasilan istri.
Fenomena perempuan bekerja sudah lazim dalam kehidupan masyarakat. Semenjak dahulu, perempuan sudah menjadi penopang ekonomi keluarga. Perempuan tersebar di berbagai lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Mereka bisa ditemukan di instansi pemerintah, rumah sakit, perkantoran swasta, kepolisian, tentara, pasar, mal, terminal, sekolah, persawahan, pabrik, dan kebun teh. Jenis pekerjaan yang membutuhkan intelegensi ataupun tenaga kasar bisa dimasuki oleh perempuan.
Kemampuan perempuan untuk tampil sebagai penopang ekonomi keluarga dilatarbelakangi oleh beragam faktor. Pertama, kapabilitas dan akseptabilitas perempuan di dunia kerja. Peningkatan kapabilitas perempuan yang disebabkan oleh perbaikan tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki membuat mereka lebih mudah diterima di dunia kerja. Akseptabilitas perempuan tampak dari banyaknya lowongan pekerjaan yang mempersyaratkan pekerja perempuan. Mereka lebih diterima di dunia kerja karena keuletan, kerajinan dan loyalitas yang ditunjukkan. Kemampuan perempuan untuk mendapatkan pekerjaan membuat peran mereka dalam menopang ekonomi keluarga lebih meningkat.
Faktor kedua, banyak laki-laki yang tidak mampu tampil sebagai penopang ekonomi keluarga karena beragam alasan. Kondisi sakit, sikap malas, tidak memiliki keterampilan, tidak berpendidikan, tidak memiliki etos kerja, dan enggan mencoba usaha sendiri adalah contoh penyebab ketidakmampuan laki-laki menjadi penopang ekonomi keluarga. Seorang ibu yang melihat suaminya malas mencari pekerjaan sementara kebutuhan keluarga tidak terpenuhi tentu akan mencoba mencari jalan keluar agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Pilihan perempuan untuk bekerja dilandasi semangat untuk memenuhi kebutuhan anak dan memastikan dapur keluarga tetap berjalan.
Selain sektor formal, banyak perempuan yang mampu meraih sukses ekonomi di sektor informal. Usaha yang dijalankan dari rumah ataupun dikelola secara online banyak melahirkan perempuan yang sukses di bidang ekonomi. Meski demikian, masih banyak perempuan yang mengandalkan tenaga kasar untuk memperoleh penghasilan. Berjualan di pasar, terminal, menjadi buruh gendong, kuli bangunan, petugas kebersihan terminal dan tukang parkir adalah pilihan realistis untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagian perempuan lain memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri meskipun ancaman penyiksaan dan penindasan selalu membayangi.
Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Provinsi Jawa Tengah menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang berangkat ke luar negeri sejak Januari hingga 26 Juli 2012 tercatat berjumlah 62.279 orang, sedangkan pada tahun 2011 lalu sebanyak 125.000 orang. Dari jumlah tersebut pekerja perempuan berkonstribusi sebanyak 39.506 orang dan pekerja pria sebanyak 22.287 orang.
Harta Istri
Dalam pandangan Islam, perempuan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga diperbolehkan sepanjang jenis dan cara melakukannya halal. Penghasilan yang diterima dari pekerjaan tersebut sepenuhnya menjadi milik perempuan. Hal ini berbeda dari penghasilan yang diperoleh seorang suami.
Sebagai kepala rumah tangga, di dalam penghasilan suami terdapat hak istri dan anak-anaknya. Hal ini disebutkan dalam Alquran, Surat Al-Baqarah ayat 233 Allah SWT berfirman: ”Wajib bagi setiap suami untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada istri, dengan sepantasnya.” (Alquran, Surat Al-Baqarah: 233).
Ayat di atas menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah sang suami memberikan nafkah kepada istri, sehingga dalam harta yang diperoleh suami, ada bagian yang harus diberikan kepada istri. Jika suami tidak memberikannya, maka suami bersikap zalim, dan istri berhak untuk mengambil sesuai dengan kebutuhannya.
Artinya, proses penggunaan harta suami untuk kepentingan keluarga adalah kewajiban yang harus ditunaikan meskipun sang suami tidak rela.
Hal ini berbeda dari kepemilikan harta istri yang sepenuhnya menjadi miliknya. Pemanfaatan harta istri untuk kepentingan keluarga harus sesuai dengan izin dan kerelaannya. Harta seorang istri tidak boleh digunakan oleh suami tanpa adanya izin dan kerelaan darinya.
Harmoni dalam Keluarga
Untuk mencapai tujuan keluarga dibutuhkan sebuah harmoni antara suami, istri dan anak. Perjalanan keluarga ibarat kapal mengarungi luasnya lautan yang penuh riak gelombang. Dibutuhkan kekompakan dan kerja sama antarsemua elemen dalam kapal. Nakhoda, awak kapal, dan penum-pang memiliki keinginan yang sama, yaitu selamat sampai tempat tujuan. Karena itu, dibutuhkan komunikasi intensif agar semua pihak memahami peran dan kontribusinya bagi perjalanan.
Dalam kehidupan keluarga, terkadang suami tidak mampu menjalankan perannya dengan baik guna memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, kehadiran istri sebagai penopang keluarga adalah keniscayaan. Meskipun status harta istri adalah sepenuhnya menjadi miliknya tetapi wanita dianjurkan untuk menginfakkan hartanya untuk keluarga. Hal ini merupakan wujud sikap tolong-menolong dan etika sebagai seorang istri.
Peran Khadijah pada masa awal dakwah Rasulullah merupakan contoh yang agung tentang peran istri dalam mendukung suami dan keluarga. Khadijah menginfakkan hampir seluruh hartanya untuk kemajuan dakwah Islam. Penghasilannya yang besar dari perdagangan digunakan untuk mendukung peran suami dalam penyebaran Islam. Meskipun lebih kaya dari suami, beliau tidak kehilangan rasa hormat terhadap Rasulullah sebagai suami. Kondisi tersebut menjadi contoh harmoni kehidupan keluarga yang mengedepankan sikap tolong-menolong dan kasih sayang. (24)
Dimuat di harian Suara Merdeka, 1 Agustus 2012

Saturday, August 10, 2013

Perempuan di Masa Kemerdekaan

Perjuangan perempuan pada periode ini dilatari oleh semangat pembebasan dan dan perlawanan terhadap penjajah. Pada periode ini perjuangan perempuan dibagi tiga babak, yaitu : (1) perempuan mengangkat senjata; (2) perempuan mendidik; dan (3) babak perempuan berpolitik dan berorganisasi. Sejak datang pada akhir abad XVI (1596), selama ratusan tahun Belanda terus mengeruk keuntungan dari tanah Indonesia yang menjadi jajahannya. Mereka melakukan monopoli perdagangan, merampas, dan mengeluarkan kebijakan tanam paksa. Diperlakukan sewenang-wenang seperti itu, muncul perlawanan di seluruh Indonesia. Sejumlah nama perempuan di beberapa daerah muncul pada periode ini. Bersama kaum laki-laki, mereka turut mengangkat senjata mengusir penjajah. Misalnya Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Muthia di Aceh; Raden Ayu Ageng Serang, Roro Gusik (istri Untung Surapati) di Jawa; Christina Martha Tiahahu di Maluku; dan sejumlah nama lainnya.

Pada babak perempuan mendidik diawali dengan diberlakukannya “politik etis” (1901) di Indonesia. Konsep ini merupakan upaya pemerintahan kolonial Belanda untuk memajukan penduduk wilayah jajahan sebagai wujud balas budi atas keuntungan yang sudah dikeruknya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan memberi peluang kepada penduduk wilayah jajahan (mereka menggunakan istilah pribumi) untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Di kemudian hari, merekalah yang akan memperoleh kesempatan menjadi pegawai rendahan pemerintah kolonial. Mereka juga yang kemudian memiliki kesadaran meneruskan (menularkan/ mendiseminasikan) pengetahuan yang didapatnya kepada sesama pribumi.

Meskipun jumlah kaum perempuan yang beruntung memperoleh pendidikan itu tidak begitu banyak, tetapi usaha mereka untuk memajukan perempuan lainnya merupakan upaya cukup tepat. Mereka yang bergerak memajukan kaum perempuan dalam bidang pendidikan adalah R.A. Kartini di Jawa Tengah, Raden Dewi Sartika di Jawa Barat, Rohana Kudus di Minangkabau, Maria Walanda Maramis di Sulawesi Utara, Ny. Hj. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Ny. Hj. Rasuna Said di Sumatera Barat, dan beberapa nama lainnya yang melakukan usaha yang sama di daerah masing-masing.

Pada masa ini, Kartini menjadi sosok yang penting karena beliau  adalah pejuang kesetaraan gender pertama yang pernah ada di Indonesia. Kartini membuka lebar-lebar pintu emansipasi bagi perempuan. Kebanyakan perempuan Indonesia yang semula pasif, pasrah, bahkan ada yang berfilsafat "swarga nunut nraka katut", mulai menampakkan peranannya melalui pintu emansipasi yang telah dibuka oleh R.A.Kartini. Kartini juga pelopor dan pendahulu perjuangan untuk pendidikan perempuan dan persamaan hak perempuan. Kartini berpendapat bahwa bila perempuan ingin maju dan mandiri, maka perempuan harus mendapat pendidikan. Ia adalah seorang tokoh pertama pendobrak patron dan paham patriarki dalam budaya masyarakat Jawa yang kental. Pemikirannya yang aneh dan menyalahi adat pada jamannya saat itu, justru menjadi tonggak sejarah bangkitnya perjuangan wanita dalam mengalahkan tirani dan penindasan terhadap perempuan.

Selanjutnya, pendidikan yang dikenyam pada masa kolonial melahirnya banyak perubahan pada diri kaum perempuan, di antaranya kesadaran untuk berorganisasi. Hal tersebut dilakukan demi keinginan terbebas dari belenggu penjajah, dan upaya menyelesaikan masalah sosial seperti pelacuran, permaduan (perempuan yang dimadu), perkawinan anak-anak, dan perdagangan perempuan dan anak-anak. Menurut beberapa sumber sejarah, Poetri Mardika (1912) tercatat sebagai organisasi nasionalis perempuan pertama. Organisasi ini kemudian diikuti oleh kelahiran organisasi lainnya seperti Poetri Sedjati, Wanita Oetama, Jong Java Meisjeskering, dan yang lainnya.

Setelah tahun 1920, berdiri organisasi perempuan yang berbasis agama, diantaranya : Aisiyyah, Muslimat NU, dan Poesara Wanita Katholik (yang dikemudian hari menjadi Persatuan Wanita Katolik Indonesia). Kemudian pada tahun 1928 di Yogyakarta diadakan Kongres Perempuan Indonesia pertama. Dihadiri oleh lebih dari 30 organisasi perempuan. Pokok-pokok yang dibahas adalah masalah pendidikan, reformasi perkawinan, koedukasi (perempuan dan laki-laki bersama-sama sekolah dalam satu kelas), dan poligami. Pada kongres tersebut juga dibentuk Persatoean Perempoean Indonesia (PPI), yang setahun kemudian diubah menjadi Perikatan Perhimpoenan Perempuan Indonesia (PPPI). Satu-satunya organisasi yang mengecam politik kolonial Belanda dan anti-kapitalisme adalah Isteri Sedar. Organisasi ini berdiri tahun 1930, dan tidak bergabung dengan Kongres Perempuan Indonesia karena adanya perbedaan pandangan, terutama mengenai poligami

Sunday, August 4, 2013

Restu Raja Jawa

Menjelang pemilu presiden pada 2014 nanti, para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden semakin giat menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk mendukung pencalonan mereka. Mereka sadar bahwa untuk menjadi pemimpin di Indonesia butuh dukungan dari berbagai pihak, sehingga dukungan dari kelompok atau dari partai politik yang mencalonkan mereka dianggap belum cukup. Hal itu dikarenakan dalam pemilu kali ini tidak ada satupun partai politik yang tampil sebagai single majority. Dukungan dari massa pemilih tersebar ke berbagai partai politik yang berbeda-beda. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk membentuk kepemimpinan nasional butuh dukungan dari kelompok lain di luar keolmpoknya sendiri. Dampaknya adalah maraknya upaya untuk melakukan lobi-lobi politik guna menggalang dukungan bagi pencalonan capres dan cawapres. Salah itu fenomena politik yang cukup menarik untuk diamati adalah menunggu restu dari Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai salah satu tokoh yang dihormati di Jawa. Biasanya beliau akan di datangi dan dimintai restu para calon presiden dan wakil presiden di Yogyakarta.
Dari fenomena ini setidaknya ada dua hal yang bisa dilihat yaitu kepentingan Sultan sebagai tuan rumah dan kepentingan mereka yang datang ke keraton. Di berbagai kesempatan, Sultan dan mereka yang datang ke keraton selalu menegaskan bahwa pertemuan mereka merupakan upaya mempertemukan anak bangsa dari berbagai kelompok dalam rangka menjaga keutuhan bangsa dan negara ini dan bukan bertujuan kepentingan dukung mendukung dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.
Dilihat dari kepentingan Sultan bisa jadi demikian, karena sejauh ini beliau tidak terlibat langsung sebagai capres atau cawapres. Agenda mempertemukan mereka yang kelak menjadi pemimpin bangsa ini dapat digunakan oleh Sultan untuk memberi masukan bagi kepentingan bangsa kedepan yaitu terjaganya keutuhan bangsa dan negara. Dilain pihak, jika dilihat dari kepentingan para capres dan cawapres yang datang ke keraton tentunya tidak sesederhana itu. Mereka yang mengunjungi Sultan membawa kepentingan lain yang terkait dengan pencalonan mereka. Mereka berharap dengan mengunjungi Sultan akan dapat memperoleh restu dan dukungan bagi kepentingan pencalonan mereka nantinya. Restu dan dukungan yang diberikan oleh Sultan berarti tambahan dukungan pemilih bagi mereka. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa pentingkah restu dan dukungan Sultan tersebut sehingga para capres dan cawapres ini menganggap pertemuan dengan beliau merupakan agenda penting berkaitan dengan pencalonan mereka.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak ada salahnya jika kita menyimak apa yang diutarakan oleh Clifford Geerz berkaitan dengan kehidupan politik di Indonesia. Menurut Geerzt ada tiga kekuatan politik utama dalam perpolitikan di Indonesia yaitu kaum abangan, kaum santri dan kaum priyayi. Kaum abangan cenderung berpihak dan memberikan dukungan kepada politikus atau partai yang tradisional, sekular dan nasionalistik. Kaum santri cenderung berpihak dan memberikan dukungan kepada politikus atau partai beraliran Islam, sedangkan golongan priyayi merupakan orang-orang yang memiliki pengaruh kuat dan dukungan dari masyarakat.
Selain itu, terkait pula dengan karakteristik budaya politik masyarakat Indonesia yaitu kecenderungan pembentukan pola hubungan patronage atau istilah James Scott disebut sebagai patron-client.Patron merupakan orang-orang yang memiliki sumber daya untuk mempengaruhi clientnya seperti sumberdaya kekuasaan, kedudukan, perlindungan, rasa kasih sayang dan kekayaan, sedangkan client memiliki dukungan, tenaga dan loyalitas. Client biasanya akan mengikuti apa yang dikatakan oleh patron mereka termasuk dalam dukungan politik, sehingga mendapat dukungan dari seorang patron sama saja dengan mendapat dukungan dari client pendukungnya.
Sebagai Raja Jawa, Sultan adalah simbol priyayi dan patron (pemimpin) yang dicintai oleh rakyatnya. Rakyat yang berdiri di belakang Sultan adalah pendukung yang loyal dan mencintainya, sehingga mendapat dukungan dan restu dari sultan merupakan modal tersendiri bagi capres dan cawapres. Contoh dari loyalitas dan kecintaan pendukungnya terhadap Sultan dapat dilihat dari keinginan mereka beberapa waktu lalu untuk tetap menempatkan beliau sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Loyalitas dan kecintaan mereka terbentuk karena perilaku Sultan selama memimpin yang berpihak kepada kepentingan mereka.
Siapa saja yang ingin menjadi presiden dan wakil presiden sangat membutuhkan dukungan dari tiga kelompok ini dan tidak bisa meninggalkan salah satunya. Tidak mengherankan jika patron-patron politik lain seperti juga laris dimintai restunya. Tokoh yang dianggap sebagai representasi kelompok Islam merupakan patron politik yang memegang peran signifikan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden kali ini. Seperti halnya Raja Jawa, dibelakang mereka juga berdiri pendukung-pendukung yang loyal dan mencintai mereka, sehingga dukungan dan restu yang diberikan akan membawa pengaruh yang besar terhadap dukungan dari pemilih yang berdiri di belakang mereka. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa restu dan dukungan Sultan sebagai Raja Jawa merupakan modal yang signifikan bagi mereka yang akan bersaing dalam pemilihan presiden dan wakil presiden nanti sehingga bersilaturahmi ke keraton untuk mendapat restu dan dukungannya merupakan agenda penting bagi para capres dan cawapres.